Pasar wadai selalu ada setiap Ramadan. Wadai dalam bahasa Banjar berarti kue. Jadi, dari namanya sudah bisa ditebak bahwa ini pasar kue. Di Palangkaraya, memasuki bulan suci Ramadan, pasar wadai selalu ditunggu warga.
Keberadaan pasar wadai biasanya diikuti dengan pedagang kagetan, seperti penjual mainan anak-anak, pakaian, serta kebutuhan umat muslim, seperti baju koko, mukena, kopiah, dan sajadah.
Pasar wadai itu menyebar di sejumlah tempat, terutama di dekat permukiman. Di Kota Palangkaraya, ada dua tempat pasar wadai yang ramai dikunjungi, yakni di kompleks lapangan olahraga Sanaman Mantikei di Jalan Ahmad Yani dan di Pasar Kahayan di Jalan Cilik Riwut. Di lokasi yang didirikan pemerintah Kota Palangkaraya ini, dibuat puluhan kios untuk pedagang.
Pasar ini menjual berbagai penganan dari berbagai suku di Kalimantan, bahkan masakan Jawa, misalnya kue bingka, yang terbuat dari berbagai macam bahan: nangka, kentang, pisang, bahkan tape. Ada kue lapis dengan beragam variasi, sejumlah kue lokal, seperti cucur, juga kolak dan es buah dengan aneka rasa. Sayuran masak dari berbagai daerah dan ikan bakar juga dijual di sini.
Harga yang ditawarkan bervariasi. Untuk satu potong kue yang cukup dimakan untuk lima orang paling murah dijual Rp 5.000. Satu porsi sayuran untuk jatah satu orang dijual dengan harga Rp 7.500-10 ribu. Sayur matang dijual agak mahal karena harga bahan bakunya sudah mulai meningkat di Kota Palangkaraya.
Selain memberi manfaat bagi pembeli, pasar ini membuka kesempatan memperoleh pendapatan, terutama untuk menghadapi Lebaran. Hartini, misalnya. Ia hanya berjualan di pasar wadai pada saat Ramadan untuk mengisi waktu luang. “Saya juga bisa sedikit demi sedikit mengumpulkan uang untuk persiapan menghadapi Lebaran guna membeli baju anak-anak, juga membeli kue Lebaran,” ujar ibu rumah tangga yang menyewa sebuah kios di pasar wadai.
Pendapatan yang dia peroleh dari sana tak bisa diprediksi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penghasilan Hartini yang cukup baik hanya dua pekan setelah puasa. “Selama dua minggu pertama puasa, bila berdasarkan pengalaman tahun lalu, penghasilan sehari bisa Rp 75-100 ribu. Setelah itu menurun dan maksimal dapat Rp 50 ribu.
Menurunnya penghasilan ini, bisa dimaklumi. Sebab, dua minggu terakhir sudah banyak orang yang mulai mudik sehingga pengunjung pasar wadai berkurang.
Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang saat pembukaan pasar wadai, Senin lalu, mengungkapkan keinginannya agar keberadaan pasar wadai bisa dijadikan salah satu tujuan wisata di daerahnya. “Sebab, kita tahu di berbagai daerah pasar jenis ini selalu ada setiap hari sehingga menarik untuk dikunjungi, terutama oleh wisatawan,”
Karena itu, beliau berkeinginan keberadaan pasar wadai, yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bias dilestarikan dengan cara membuatnya secara permanen.
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar


